Telah Kutuliskan
Hal yang baru-baru ini telintas dalam pikiranku secara pribadi. Namun bukan hal yang tidak pernah kubicarakan pada orang-orang yang kutemui. Aku ingin menyampaikannya langsung, tapi pasti terkesannya berlebihan, dan mungkin tidak semudah ketika aku memikirkannya. Ketika aku akan menyampaikannya mungkin tidak akan seutuhnya lengkap seperti yang terpikirkan dan karena aku grogi dan terdistrak oleh lingkungan sekitar akan ada yang tidak tersampaikan dengan baik.
Telah kutuliskan...
Apa yang ingin kusampaikan yang ada dipikiranku, ya inilah yang akan kutuliskan. Tentang Kota Istimewa ini, tentang bagaimana aku begitu beruntung dan lengkap ada disini.
Aku tidak bertemu dengan teman KTB disini, tidak pula dengan teman sepelayananku seperti di UNRI yang secara otomatis akan menerimaku, dan ya gak usah heran langsung nyambung biasanya.
Aku bertemu saudariku, yang sejak aku berkata akan ke Jogja sudah menyambutku dengan hangat. Dia yang bersedia kurepotkan, Saudari Silvia Sinaga. Yang sejak aku mengenalnya adalah pribadi yang luar biasa, sangat rendah hati dan suka menolong. Dia yang langsung bersedia membayarkan lebih dulu uang untuk tes TOEFL ku, haha mungkin kesannya hanya sederhana tapi saat itu aku belum di Jogja tapi dia tidak ragu untuk langsung memberikan dirinya. Dan setibanya di Jogja dia menyambutku di bandara bersama pacarnya yang akhirnya naik motor sendiri karena Silvi harus menemaniku di dalam taksi, maklum baru pertama di Jogja.
Ya, akhirnya aku tiba dikosan Silvi tepatnya bulan 6 akhir, bertemu dengan penghuni kosan: Siska, Sanika, Tetti, Novita dan Beatrix. Tinggal di rumah kontrakan bersama orang-orang yang luar biasa, menerimaku dengan baik dan kami langsung menjadi akrab. Dan hal yang paling mengesankan sekaligus merepotkan yang kulakukan pasa Silvi adalah ketika kami harus berbagi kasur tempat tidur disaat malam hari, dengan kondisi yang agak panas dan ukuran tubuh kami yang tidak bisa dibilang kecil. hampir 2 bulan kami bersama tidur dalam satu kasur, sampai akhirnya Silvi lulus kerja di Unilever. Selama awal di Jogja Silvi begitu baik,dia mengenalkanku dengan bg Fadlan dan kehidupan Jogja yang indah. Terimakasih Silvi... terimakasih sudah menerimaku dengan baik, mengenalkan Jogja sebagai Kota yang ramah dengan keramahanmu, sampai akhirnya dia meninggalkanku dia meninggalkan juga banyak sekali kebaikan yang tidak dapat kusebutkan satu persatu.
Kehidupan Jogjaku setelah ditinggalkan Silvi kulalui bersama Beatrix Saragih, yang membawaku ke gereja GKPS Yogyakarta dan merupakan tempat yang juga sangat ku syukuri, tempat aku melalui masa-masa yang tidak mudah tentunya. Namun, Beatrix selalu membuat gereja seperti sebuah istana dan tempat yang indah untuk dikunjungi, keceriaan dan sukacita selalu tercipta di wajahnya saat kami ada di gereja. Berkat Beatrix aku terlibat banyak hal di gereja dan sampai suatu hari Beatrix juga harus pergi keluar kota karena dia sudah mendapat pekerjaan disana. Beatrix yang mengajarkanku untuk hidup dalam kerendahan hati, kesederhana, rasa syukur setiap saat, dana pentingnya komunikasi dengan keluarga. Beatrix yang membuat seolah kesulitan bukanlah hal yang membuat kita harus bersedih tapi untuk kita tetap kuat dan berdoa berserah pada Tuhan.
Terimaksih Beatrix buat semua kebaikanmu, terimaksih sudah meneriamaku disini, terimaksih sudah mengajarkanku bagaimana harus beradaptasi dengan keadaan Jogja, dengan keadaan Gereja, dan bagaimana kita harus dewasa meresponi segala keadaan.
Dan pribadi yang juga diawal merupakan teman seperjalanan di Jogja, seperti seorang teman sebaya kala itu, Bg Fadlan.. setelah Silvi pergi, dan Beatrix yang sering dinas luar kota waktu itu bg Fadlan lah temanku, teman makan siang, malam, pagi dan keesokan hari nya juga, teman jalan-jalan keliling Jogja, teman yang memperkenalkanku tempat wisata Jogja, tempat makan murah enak di Jogja hahaha. Banyak hal boleh kulalui bersama bg Fadlan, mulai dari wifian di kampus teknik ngawanin bg Fadlan ngerjain Skripsi, bantuin maba nyari kosan, belanja baju lebaran, jalan-jalan bawa tamu yang datang, sampai akhirnya beli motor ku pakek KTP bg Fadlan. Tapi satu hal yang paling terkenang dari sifat bg Fadlan adalah kelembutan hatinya dan kesabaranya, mungkin karena sudah lama tinggal di Jogja kali ya jadi dapat hati sesabar itu. waktu aku sakit gigi di pantai jungwok, bg Fadlan dengan sabar merawatku, dia mengusahakan obat untukku, dan setia menanyakan keadaanku.
Terimakasih bg Fadlan, terimkasih sudah ada di Jogja waktu aku datang ke Jogja ya.. tetaplah menjadi abg yang baik dan berhati sabar.
Aku ingin mengatakan rasa terimkasihku pada kalian berkat kalian aku merasakan keistimewaan Jogja, karena dimana pun kita berada akan terasa indah ketika kita menemukan orang-orang yang berhati mulia seperti kalian.. Tempat adalah tentang dengan siapa kita ada disana..
Jogjaku juga tidak akan lengkap tanpa Siska, Novita, Sanika, Tetti, yang menghuni rumah kontrakan, tidak lengkap juga tanpa kekocakan dan kegilaan Desi Damanik, yang dulu pertama kali bawa aku ke malioboro karena kasihan liat aku yang udah 2 minggu di Jogja tapi belum jalan-jalan sama sekali. Di Jogjaku juga tidak lupa ada bg Dian yang mengantarku dengan setia untuk tes S2 UGM.
Inilah orang-orang hangat yang awalnya kutemukan di Jogja, yang setiap hariku kulalui bersama mereka yang mengajariku beradaptasi dengan cepat di Jogja.
Jika waktu mendatang kita dapat bertemu lagi dan berbagi dalam satu waktu tentu akan terasa indah seperti menemukan seorang saudara yang kembali dari perantauan,,,
Aku menulis untuk kubaca dan supaya aku tidak lupa akan jasa kebaikan kalian yang menerimaku di Jogja...
Terimaksih,, aku telah menuliskan besarnya rasa terimkasihku pada kalian..
:) :)
Aku menulis untuk kubaca dan supaya aku tidak lupa akan jasa kebaikan kalian yang menerimaku di Jogja...
Terimaksih,, aku telah menuliskan besarnya rasa terimkasihku pada kalian..
:) :)
Komentar
Posting Komentar